Tampilkan postingan dengan label ISLAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ISLAM. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Oktober 2015

Kematian Firaun Terungkap

Kematian Firaun Terungkap
Temuan tim forensik arkeologi yang dituangkan di sebuah jurnal Inggris berhasil mengungkap sebab kematian Firaun ribuan tahun sebelum masehi. Temuan ini mematahkan berbagai mitos yang mengatakan Firaun mati digigit ular atau diracun.

Diberitakan CNN, Selasa 18 Desember 2012, dalam British Medical Journal dikatakan bahwa Firaun Ramses III yang hidup sekitar 1156 SM mati akibat digorok lehernya. Penguasa Mesir ini diduga menjadi korban pembunuhan salah satu selirnya pada upaya kudeta atas dirinya.

Hal ini terbukti pada bekas luka dalam di pada leher Ramses III yang dimumi. Menurut laporan forensik tersebut, luka sedalam itu kemungkinan terjadi akibat sayatan pisau tajam.

"CT Scan menunjukkan bukti bahwa pengkhianat membunuh Ramses III dengan menggorok lehernya," tulis laporan di jurnal itu.

Dalam CT Scan tersebut, terlihat bahwa leher, tenggorokan dan arteri Ramses III tergorok membuatnya mati seketika. "Luka ini tidak mungkin terjadi setelah kematian, karena kalung di sekitar leher mumi masih menempel dan tidak rusak saat dilepaskan pada 1886. Di lehernya juga ada aspal yang harus dihilangkan dengan menggunakan palu," ujar laporan itu lagi.

Selain itu, bukti lainnya bahwa luka itu ada sebelum pembalseman adalah ditemukannya amulet bentuk mata Horus di dalam leher Ramses III. "Keberadaan amulet di dalam jaringan lunak menunjukkan bahwa luka terjadi sebelum dibalsem," tulis laporan.

Raja Ramses III memerintah Mesir sejak 1187 hingga 1156 SM. Dalam pembunuhannya, putra Ramses III, Pangeran Pentawere dinyatakan bersalah dan dihukum mati. Pentawere kemudian dimumi dengan cara yang berbeda dengan para pendahulunya. Mumi Pentawere dibalut dengan kulit kambing, sebagai bentuk hukuman atas pembunuhan raja.

"Penggunaan kulit kambing atau domba dalam pemakaman kerajaan sangat jarang dilakukan, karena materi ini dianggap tidak suci," lanjut laporan itu lagi.
http://abidin76.blogspot.co.id/2013/02/terungkap-misteri-kematian-firaun.html
Pengetahuan Umum
Pengetahuan Umum Updated at: 10/18/2015 11:15:00 PM
Pengetahuan Umum
Pengetahuan Umum Updated at: 10/18/2015 11:15:00 PM

Rabu, 14 Oktober 2015

Inilah 7 Masjid Yang Pertama Kali Dibangun di Dunia

Masjid adalah tempat peribadatan bagi seorang muslim. Di masjid dilaksanakan ritus peribadatan kepada Tuhan penguasa alam. Berikut ini daftar masjid yang pertama kali dibangun di muka bumi ini:

1. Masjidil Haram.
7 Masjid Yang Pertama Kali Dibangun di Dunia
Ketika meninggikan kabah Nabi Ibrahim dan putranya nabi Ismail, kemudian membangun masjid di sekitar kabah yang kemudian disebut dengan Masjidil Haram. Selanjutnya perluasan Masjidil Haram dimulai tahun 638 ketika Umar bin khatab menjadi khalifah dengan membeli rumah-rumah sekitar kabah dan digunakan untuk perluasan masjid. Perluasan dan pembangunan Masjidil Haram kemudian dilanjutkan khalifah berikutnya yaitu Utsman bin affan ada tahun 647.

2. Masjid Al Aqsa.
7 Masjid Yang Pertama Kali Dibangun di Dunia
Masjid Al Aqsa terletak di kota lama yerusalem (yerusalem timur. Majid Al Aqsa dianggap tempat suci ketiga oleh umat islam setelah Mekah dan Madinah. Ketika isra miraj terjadi, muslim percaya nabi dibawa dari Masjid Al Haram di Mekah ke masjid Al Aqsa sebelum diangkat ke sidratul muntaha. Masjid Al Aqsa pernah dijadikan kiblat sholat selama 13 tahun dakwah nabi di mekkah dan 17 bulan dakwah di Madinah. Setelah itu kiblat sholat adalah ke kabah di masjidil Haram sampai sekarang.

3. Masjid Quba.
7 Masjid Yang Pertama Kali Dibangun di Dunia
Masjid quba adalah masjid yang dibangun pertama oleh rosullullah. Masjid ini terletak di quba, sekitar 5 km sebelah tenggara kota madinah. Masjid ini dibangun nabi setelah hijrah ke Madinah. setelah empat hari beristirahat, hal pertama dilakukan oleh nabi adalah membangun masjid Quba.

4.Masjid Nabawi.
7 Masjid Yang Pertama Kali Dibangun di Dunia
Masjid ini terletak di kota madinah yang akhirnya juga menjadi makam nabi beserta para sahabatnya. Di masjid inilah tempat dilakukan musyawarah nabi dan para sahabat untuk menyebarkan islam di seluruh dunia.

5.Masjid Al Qiblatain.
7 Masjid Yang Pertama Kali Dibangun di Dunia
Masjid ini terletak di tepi jalan menuju kampus universitas Madinah. Masjid ini di sebut Qiblatain yang berarti masjid berkiblat dua. Ceritanya waktu itu Nabi sedang melakukan sholat dhuhur di masjid ini menghadap kiblatnya ke baitul maqdis (Masjid Al Aqsa) setelah itu turun perintah Alloh untuk merubah arah kiblat ke kabah di Masjidil Haram di Mekah.

6.Masjid Jawatha.
7 Masjid Yang Pertama Kali Dibangun di Dunia
Masjid ini didirikan tahun 629 lokasi di desa alkilabiyah, sekitar 12 km timur laut hofuf, al-ahsa, Arab Saudi. Itu adalah awal masjid yang dibangun di Arabia timur dan sebagian besar struktur asli di reruntuhan. Tempat ini masih digunakan untuk doa.

7.Masjid Kufah.
7 Masjid Yang Pertama Kali Dibangun di Dunia
Masjid ini dibangun tahun 639 di Kufah Irak. Masjid ini juga merupakan masjid yang paling awal dibangun dalam islam
Pengetahuan Umum
Pengetahuan Umum Updated at: 10/14/2015 06:48:00 AM
Pengetahuan Umum
Pengetahuan Umum Updated at: 10/14/2015 06:48:00 AM

Minggu, 04 Oktober 2015

Peninggalan Sejarah Kerajaan Aceh

Kerajaan atau kesultanan Aceh merupakan salah satu kerjaan yang cukup besar di Sumatra, didirikan oleh Sultan Ali Mughayat Syah pada tahun 1496 kesultanan aceh berkembang dengan sangat pesat dan memiliki wilayah kekuasaan yang cukup luas. Sebagai salah satu kerajaan Islam, kesultanan Aceh meninggalkan beberapa peninggalan bersejarah yang masih utuh hingga saat ini diantaranya adalah:

Masjid Raya Baiturrahman
Peninggalan Sejarah Kerajaan Aceh
Bangunan ini dibuat oleh Sultan Iskandar Muda tahun 1022 H/1612 M terletak tepat di pusat Kota Banda Aceh dan menjadi pusat kegiatan keagamaan di Aceh Darussalam. Sewaktu agresi tentara Belanda kedua pada 10 April 1873, Masjid Raya Baiturrahman sempat dibakar. Namun kemudian, Belanda membangun kembali Masjid Raya Baiturrahman pada tahun 1877 untuk menarik perhatian serta meredam kemarahan Bangsa Aceh.

Sampai saat ini Masjid Raya Baiturrahman menjadi objek wisata religi termasuk salah satu Masjid dengan arsitektur terindah di Indonesia. Ada cerita menarik tentang masjid yang satu ini, Saat tsunami meluluh lantakan Aceh pada 26 Desember 2004 silam, Masjid Baiturrahman masih berdiri kokoh, kedahsyatan tsunami tak mampu menghancurkan rumah Allah ini.

Makam Raja Aceh Sultan Iskandar Muda
Peninggalan Sejarah Kerajaan Aceh
Sultan Iskandar Muda lahir di tanah Aceh pada 27 September 1636, beliau merupakan sultan terbesar dalam sejarah kejayaan Kesultanan Aceh, saat itu kesultanan Aceh menjadi salah satu pusat perdagangan dan pembelajaran Islam di Nusantara. Makan Sultan Iskandar Muda berada di baperis, kelurahan peuniti, kecamatan baiturrahman, banda Aceh. Untuk menjangkau lokasi pemakaman sangat mudah karena banyak opsi transportasi yang bisa digunakan.

Benteng Indra Prata
Peninggalan Sejarah Kerajaan Aceh
Benteng ini terletak di desa Ladong, Kec Masjid Raya, Kab Aceh Besar. Disana terdapat sebuah situs sejarah peninggalan kesultanan Aceh yang hingga kini masih berdiri kokoh dan menjadi objek wisata lokal. Meskipun sempat dihantam Tsunami, benteng ini tatap kokoh tak lapuk dimakan usia meskipun sudah berumur ratusan tahun. Sebenarnya benteng ini dibangun oleh Raja Kerajaan Lamuri, Benteng Indra Patra ini bahkan berlangsung hingga masa Islam di Aceh benteng ini juga dipergunakan sebagai benteng pertahanan bagi Kerajaan Aceh Darussalam.
http://jagosejarah.blogspot.co.id/
Pengetahuan Umum
Pengetahuan Umum Updated at: 10/04/2015 10:06:00 PM
Pengetahuan Umum
Pengetahuan Umum Updated at: 10/04/2015 10:06:00 PM

Sejarah Kerajaan Aceh

Sejarah Kerajaan Aceh
a. Letak Kerajaan
Kerajaan Aceh berkembang sebagai kerajaan Islam dan mengalami kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Perkembangan pesat yang dicapai Kerajaan Aceh tidak lepas dari letak kerajaannya yang strategis, yaitu di Pulau Sumatera bagian utara dan dekat jalur pelayaran perdagangan internasional pada masa itu. Ramainya aktivitas pelayaran perdagangan melalui bandar – bandar perdagangan Kerajaan Aceh, mempengaruhi perkembangan kehidupan Kerajaan Aceh dalam segala bidang seperti politik, ekonomi, sosial, budaya.

b. Kehidupan Politik
Berdasarkan Bustanus salatin ( 1637 M ) karangan Naruddin Ar-Raniri yang berisi silsilah sultan – sultan Aceh, dan berita – berita Eropa, Kerjaan Aceh telah berhasil membebaskan diri dari Kerajaan Pedir. Raja – raja yang pernah memerintah di Kerajaan Aceh :

1. Sultan Ali Mughayat Syah
Adalah raja kerajaan Aceh yang pertama. Ia memerintah tahun 1514 – 1528 M. Di bawah kekuasaannya, Kerjaan Aceh melakukn perluasan ke beberapa daerah yang berada di daerah Daya dan Pasai. Bahkan melakukan serangan terhadap kedudukan bangsa Portugis di Malaka dan juga menyerang Kerajaan Aru.

2. Sultan Salahuddin
Setelah Sultan Ali Mughayat Wafat, pemeintahan beralih kepada putranya yg bergelar Sultan Salahuddin. Ia memerintah tahun 1528 – 1537 M, selama menduduki tahta kerajaan ia tidak memperdulikan pemerintahaan kerajaannya. Keadaan kerajaan mulai goyah dan mengalami kemerosostan yg tajam. Oelh karena itu, Sultan Salahuddin digantiakan saudaranya yg bernama Alauddin Riayat Syah al-Kahar.

3. Sultan Alaudin Riayat Syah al-Kahar
Ia memerintah Aceh dari tahun 1537 – 1568 M. Ia melakukan berbagai bentuk perubahan dan perbaikan dalam segala bentuk pemeintahan Kerajaan Aceh.

Pada masa pemeintahannya, Kerajaan Aceh melakukan perluasaan wilayah kekuasaannya seperti melakukan serangan terhadap Kerajaan Malaka ( tetapi gagal ). Daerah Kerajaan Aru berhasil diduduki. Pada masa pemerintahaannya, kerajaan Aceh mengalami masa suram. Pemberontakan dan perebutan kekuasaan sering terjadi.

4. Sultan Iskandar Muda
Sultan Iskandar Muda memerintah Kerajaan Aceh tahun 1607 – 16 36 M. Di bawah pemerintahannya, Kerjaan Aceh mengalami kejayaan. Kerajaan Aceh tumbuh menjadi kerjaan besar adn berkuasa atas perdagangan Islam, bahakn menjadi bandar transito yg dapat menghubungkan dgn pedagang Islam di dunia barat.
Untuk mencapai kebesaran Kerajaan Ace, Sultan Iskandar Muda meneruskan perjuangan Aceh dgn menyerang Portugis dan Kerajaan Johor di Semenanjung Malaya. Tujuannya adalah menguasai jalur perdagangan di Selat Malaka dan menguasai daerah – daerah penghasil lada. Sultan Iskandar Muda juga menolak permintaan Inggris dan Belanda untuk membeli lada di pesisir Sumatera bagian barat. Selain itu, kerajaan Aceh melakukan pendudukan terhadap daerah – daerah seperti Aru, pahang, Kedah, Perlak, dan Indragiri, sehingga di bawah pemerintahannya Kerajaan aceh memiliki wilayah yang sangat luas.
Pada masa kekeuasaannya, terdapat 2 orang ahli tasawwuf yg terkenal di Ace, yaitu Syech Syamsuddin bin Abdullah as-Samatrani dan Syech Ibrahim as-Syamsi. Setelah Sultam iskandar Muda wafat tahta Kerajaan Aceh digantikan oleh menantunya, Sultan Iskandar Thani

5. Sultan Iskandar Thani.
Ia memerinatah Aceh tahun 1636 – 1641 M. Dalam menjalankan pemerintahan, ia melanjutkan tradisi kekuasaan Sultan Iskandar Muda. Pada masa pemerintahannya, muncul seorang ulama besar yg bernama Nuruddin ar-Raniri. Ia menulis buku sejarah Aceh berjudul Bustanu’ssalatin. Sebagai ulama besar, Nuruddin ar-Raniri sangat di hormati oleh Sultan Iskandar Thani dan keluarganya serta oleh rakyat Aceh. Setelah Sultan Iskandar Thani wafat, tahta kerjaan di pegang oleh permaisurinya ( putri Sultan Iskandar Thani ) dgn gelar Putri Sri Alam Permaisuri ( 1641-1675 M ).

6. Sultan Sri Alam (1575-1576).
7. Sultan Zain al-Abidin (1576-1577).
8. Sultan Ala‘ al-Din Mansur Syah (1577-1589)
9. Sultan Buyong (1589-1596)
10. Sultan Ala‘ al-Din Riayat Syah Sayyid al-Mukammil (1596-1604).
11. Sultan Ali Riayat Syah (1604-1607)
12. Sultan Iskandar Muda Johan Pahlawan Meukuta Alam (1607-1636).
13. Iskandar Thani (1636-1641).
14. Sri Ratu Safi al-Din Taj al-Alam (1641-1675).
15. Sri Ratu Naqi al-Din Nur al-Alam (1675-1678)
16. Sri Ratu Zaqi al-Din Inayat Syah (1678-1688)
17. Sri Ratu Kamalat Syah Zinat al-Din (1688-1699)
18. Sultan Badr al-Alam Syarif Hashim Jamal al-Din (1699-1702)
19. Sultan Perkasa Alam Syarif Lamtui (1702-1703)
20. Sultan Jamal al-Alam Badr al-Munir (1703-1726)
21. Sultan Jauhar al-Alam Amin al-Din (1726)
22. Sultan Syams al-Alam (1726-1727)
23. Sultan Ala‘ al-Din Ahmad Syah (1727-1735)
24. Sultan Ala‘ al-Din Johan Syah (1735-1760)
25. Sultan Mahmud Syah (1760-1781)
26. Sultan Badr al-Din (1781-1785)
27. Sultan Sulaiman Syah (1785-…)
28. Alauddin Muhammad Daud Syah.
29. Sultan Ala‘ al-Din Jauhar al-Alam (1795-1815) dan (1818-1824)
30. Sultan Syarif Saif al-Alam (1815-1818)
31. Sultan Muhammad Syah (1824-1838)
32. Sultan Sulaiman Syah (1838-1857)
33. Sultan Mansur Syah (1857-1870)
34. Sultan Mahmud Syah (1870-1874)
35. Sultan Muhammad Daud Syah (1874-1903)

c. Kehidupan Ekonomi
Dalam kejayaannya, perekonomian Kerajaan Aceh bekembang pesat. Dearahnya yg subur banyak menghasilkan lada. Kekuasaan Aceh atas daerah – daerah pantai timur dan barat Sumatera menambah jumlah ekspor ladanya. Penguasaan Aceh atas beberapa daerah di Semenanjung Malaka menyebabkan bertambahnya badan ekspor penting timah dan lada.
Aceh dapat berkuasa atas Selat Malaka yg merupakan jalan dagang internasional. Selain bangsa Belanda dan Inggris, bangsa asing lainnya seperti Arab, Persia, Turki, India, Siam, Cina, Jepang, juga berdagang dgn Aceh. Barang – barang yg di ekspor Aceh seperti beras, lada ( dari Minagkabau ), rempah – rempah ( dari Maluku ). Bahan impornya seperti kain dari Koromendal
( india ), porselin dan sutera ( dari Jepang dan Cina ), minyak wangi ( dari Eropa dan Timur Tengah ). Kapal – kapal Aceh aktif dalam perdagangan dan pelayaran sampai Laut Merah.

d. Kehidupan Sosial
Meningkatnya kekmakuran telah mneyebabkan berkembangnya sisitem feodalisme & ajaran agama Islam di Aceh. Kaum bangsawan yg memegang kekuasaan dalam pemerintahan sipil disebut golongan Teuku, sedabg kaum ulama yg memegang peranan penting dlm agama disebut golongan Teungku. Namun antara kedua golongan masyarakat itu sering terjadi persaingan yg kemudian melemahkan aceh. Sejak berkuasanya kerajaan Perlak ( abad ke-12 M s/d ke-13 M ) telah terjadi permusuhan antara aliran Syiah dgn Sunnah Wal Jamma’ah. Tetapi pd masa kekuasaan Sultan Iskandar Muda aliran Syiah memperoleh perlindungan & berkembang sampai di daera – daerah kekuasaan Aceh.
Aliran ini di ajarkan oleh Hamzah Fasnsuri yg di teruskan oleh muridnya yg bernama Syamsudin Pasai. Sesudah Sultan Iskandar Mud wafat, aliran Sunnah wal Jama’ah mengembangkan islam beraliran Sunnah wal Jama’ah, ia juga menulis buku sejarah Aceh yg berjudul Bustanussalatin ( taman raja – raja dan berisi adat – istiadat Aceh besrta ajarn agama Islam )

e. Kehidupan Budaya
Kejayaan yg dialami oleh kerajaan Aceh tsb tidak banyak diketahui dlm bidang kebudayaan. Walupun ada perkembangan dlm bidang kebudaaan, tetapi tdk sepesat perkembangan dalam ativitas perekonomian. Peninggalan kebuadayaan yg terlihat nyata adala Masjid Baiturrahman.
Penyebab Kemunduran Kerajaan Aceh

* Setelah Sultan Iskandar Muda wafat tahun 1030, tdk ada raja – raja besar yg mampu mengendalikan daerah Aceh yg demikian luas. Di bawah Sultan Iskandar Thani ( 1637 – 1641 ), sebagai pengganti Sultan Iskandar Muda, kemunduran itu mulai terasa & terlebih lagi setelah meninggalnya Sultan Iskandar Thani.
* Timbulnya pertikaian yg terus menerus di Aceh aantara golongan bangsawan ( teuku ) dgn golongan utama ( teungku ) yg mengakibatkan melemahnya Kerajaan Aceh. Antara golongan ulama sendiri prtikaian terjadi karena prbedaan aliran dlmm agama ( aliran Syi’ah dan Sunnah wal Jama’ah )
* Daerah kekuasaannya banyak yg melepaskan diri seperti Johor, Pahang, Perlak, Minangkabau, dan Siak. Negara – negara itu menjadikan daerahnya sbg negara merdeka kembali, kadang – kadang di bantu bangsa asing yg menginginkan keuntungan perdagangan yg lebuh besar.

Kerajaan Aceh yg berkuasa selama kurang lebih 4 abad, akhinya runtuh karena dikuasai oleh Belanda awal abad ke-20.
http://stiebanten.blogspot.co.id/
Pengetahuan Umum
Pengetahuan Umum Updated at: 10/04/2015 09:55:00 PM
Pengetahuan Umum
Pengetahuan Umum Updated at: 10/04/2015 09:55:00 PM

Sejarah Dan Keruntuhan Kerajaan Samudera Pasai

Sejarah Dan Keruntuhan Kerajaan Samudera Pasai
Sejarah Dan Keruntuhan Kerajaan Samudera Pasai
Berdasarkan Hikayat Raja-raja Pasai, menceritakan tentang pendirian Pasai oleh Marah Silu, sesudah sebelumnya ia menyingkirkan seorang raja yg bernama Sultan Malik al-Nasser. Marah Silu ini sebelumnya berada pada satu kawasan yg disebut dengan Semerlanga kemudian sesudah naik tahta bergelar Sultan Malik as-Saleh, ia wafat pada tahun 696 H atau 1297 M.

Dalam Hikayat Raja-raja Pasai maupun Sulalatus Salatin nama Pasai & Samudera telah dipisahkan merujuk pada dua kawasan yg berbeda, namun dlm catatan Tiongkok nama-nama tersebut tak dibedakan sama sekali. Marco Polo dlm lawatannya mencatat beberapa daftar kerajaan yg ada di pantai timur Pulau Sumatera waktu itu, dari selatan ke utara terdapat nama Ferlec [Perlak], Basma & Samara [Samudera]. Pemerintahan Sultan Malik as-Saleh kemudian dilanjutkan oleh putranya Sultan Muhammad Malik az-Zahir dari perkawinannya dengan putri Raja Perlak. Pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Malik az-Zahir, koin emas sebagai mata uang telah diperkenalkan di Pasai, seiring dengan berkembangnya Pasai menjadi salah satu kawasan perdagangan sekaligus tempat pengembangan dakwah agama Islam.

Sekitar tahun 1326 ia meninggal dunia & digantikan oleh anaknya Sultan Mahmud Malik az-Zahir & memerintah sampai tahun 1345. Pada masa pemerintahannya, ia dikunjungi oleh Ibn Batuthah, kemudian menceritakan bahwa sultan di negeri Samatrah [Samudera] menyambutnya dengan penuh keramahan, & penduduknya menganut Mazhab Syafi’i.

Selanjutnya pada masa pemerintahan Sultan Ahmad Malik az-Zahir putra Sultan Mahmud Malik az-Zahir, datang serangan dari Majapahit antara tahun 1345 & 1350, & menyebabkan Sultan Pasai terpaksa melarikan diri dari ibukota kerajaan. Kesultanan Pasai juga dikenal dengan Samudera Darussalam, atau Samudera Pasai, ialah kerajaan Islam yg terletak di pesisir pantai utara Sumatera, kurang lebih di sekitar Kota Lhokseumawe & Aceh Utara, Provinsi Aceh, Indonesia.

Belum begitu banyak bukti arkeologis tentang kerajaan ini untuk dapat digunakan sebagai bahan kajian sejarah. Namun beberapa sejarahwan memulai menelusuri keberadaan kerajaan ini bersumberkan dari Hikayat Raja-raja Pasai, & ini dikaitkan dengan beberapa makam raja serta penemuan koin berbahan emas & perak dengan tertera nama rajanya. Kerajaan ini didirikan oleh Marah Silu, yg bergelar Sultan Malik as-Saleh, sekitar tahun 1267. Keberadaan kerajaan ini juga tercantum dlm kitab Rihlah ila l-Masyriq [Pengembaraan ke Timur] karya Abu Abdullah ibn Batuthah [1304–1368], musafir Maroko yg singgah ke negeri ini pada tahun 1345. Kesultanan Pasai akhirnya runtuh sesudah serangan Portugal pada tahun 1521. Penemuan makam Sultan Malik as-Saleh yg bertarikh 696 H atau 1297 M, dirujuk oleh sejarahwan sebagai tanda telah masuknya agama Islam di Nusantara sekitar abad ke-13. Walau ada pendapat bahwa kemungkinan Islam telah datang lebih awal dari itu. Hikayat Raja-raja Pasai memang penuh dengan mitos & legenda namun deskripsi ceritanya telah membantu dlm mengungkap sisi gelap sejarah akan keberadaan kerajaan ini. Kejayaan masa lalu kerajaan ini telah menginspirasikan masyarakatnya untuk kembali menggunakan nama pendiri kerajaan ini untuk Universitas Malikussaleh di Lhokseumawe.

Sistem Pemerintahan Samudera Pasai
Pusat pemerintahan Kesultanan Pasai terletaknya antara Krueng Jambo Aye [Sungai Jambu Air] dengan Krueng Pase [Sungai Pasai], Aceh Utara. Menurut ibn Batuthah yg menghabiskan waktunya sekitar dua minggu di Pasai, menyebutkan bahwa kerajaan ini tak memiliki benteng pertahanan dari batu, namun telah memagari kotanya dengan kayu, yg berjarak beberapa kilometer dari pelabuhannya. Pada kawasan inti kerajaan ini terdapat masjid, & pasar serta dilalui oleh sungai tawar yg bermuara ke laut. Ma Huan menambahkan, walau muaranya besar namun ombaknya menggelora & mudah mengakibatkan kapal terbalik. Sehingga penamaan Lhokseumawe yg bisa bermaksud teluk yg airnya berputar-putar kemungkinan berkaitan dengan ini.

Dalam struktur pemerintahan terdapat istilah menteri, syahbandar & kadi. Sementara anak-anak sultan baik lelaki maupun perempuan digelari dengan Tun, begitu juga beberapa petinggi kerajaan. Kesultanan Pasai memiliki beberapa kerajaan bawahan, & penguasanya juga bergelar sultan.

Pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Malik az-Zahir, Kerajaan Perlak telah menjadi bagian dari kedaulatan Pasai, kemudian ia juga menempatkan salah seorang anaknya yaitu Sultan Mansur di Samudera. Namun pada masa Sultan Ahmad Malik az-Zahir, kawasan Samudera sudah menjadi satu kesatuan dengan nama Samudera Pasai yg tetap berpusat di Pasai. Pada masa pemerintahan Sultan Zain al-Abidin Malik az-Zahir, Lide [Kerajaan Pedir] disebutkan menjadi kerajaan bawahan dari Pasai. Sementara itu Pasai juga disebutkan memiliki hubungan yg buruk dengan Nakur, puncaknya kerajaan ini menyerang Pasai & mengakibatkan Sultan Pasai terbunuh.

Agama & budaya Masyarakat Pasai
Islam merupaken agama yg dianut oleh masyarakat Pasai, walau pengaruh Hindu & Buddha juga turut mewarnai masyarakat ini. Dari catatan Ma Huan & Tomé Pires, telah membandingkan & menyebutkan bahwa sosial budaya masyarakat Pasai mirip dengan Malaka, seperti bahasa, maupun tradisi pada upacara kelahiran, perkawinan & kematian. Kemungkinan kesamaan ini memudahkan penerimaan Islam di Malaka & hubungan yg akrab ini dipererat oleh adanya pernikahan antara putri Pasai dengan raja Malaka sebagaimana diceritakan dlm Sulalatus Salatin.

Keruntuhan Pemerintahan Kesultanan Pasai, Akibat Perang Saudara
Menjelang masa-masa akhir pemerintahan Kesultanan Pasai, terjadi beberapa pertikaian di Pasai yg mengakibatkan perang saudara. Sulalatus Salatin menceritakan Sultan Pasai meminta bantuan kepada Sultan Melaka untuk meredam pemberontakan tersebut. Namun Kesultanan Pasai sendiri akhirnya runtuh sesudah ditaklukkan oleh Portugal tahun 1521 yg sebelumnya telah menaklukan Melaka tahun 1511, & kemudian tahun 1524 wilayah Pasai sudah menjadi bagian dari kedaulatan Kesultanan Aceh.

Penguasa Kesultanan Pasai
1267-1297, Sultan Malik as-Saleh [Marah Silu], Hikayat Raja-raja Pasai & makam raja
1297-1326, Sultan Muhammad Malik az-Zahir, Koin emas telah mulai diperkenalkan
1326-1345, Sultan Mahmud Malik az-Zahir, Dikunjungi Ibnu Batutah
1345-1383, Sultan Ahmad Malik az-Zahir, Diserang Majapahit
1383-1405, Sultan Zain al-Abidin Malik az-Zahir, Dikunjungi Cheng Ho
1405-1412, Sultanah Nahrasiyah, Raja perempuan, [janda Sultan Pasai sebelumnya]
1405-1412, Sultan Sallah ad-Din, Menikahi Sultanah Nahrasiyah
1412-1455, Sultan Abu Zaid Malik az-Zahir, Mengirim utusan ke Cina
1455-1477, Sultan Mahmud Malik az-Zahir II,
1477-1500, Sultan Zain al-Abidin ibn Mahmud Malik az-Zahir II,
Sultan Zain al-Abidin II
1501-1513, Sultan Abd-Allah Malik az-Zahir,
1513-1521, Sultan Zain al-Abidin III, Penaklukan oleh Portugal

Masa kejayaan Samudera pasai

Kemajuan Pertanian & Perdagangan Kesultanan Pasai
Masyarakat Pasai umumnya telah menanam padi di ladang, yg dipanen 2 kali setahun, serta memilki sapi perah untuk menghasilkan keju. Sedangkan rumah penduduknya memiliki tinggi rata-rata 2. 5 meter yg disekat menjadi beberapa bilik, dengan lantai terbuat dari bilah-bilah kayu kelapa atau kayu pinang yg disusun dengan rotan, & di atasnya dihamparkan tikar rotan atau pandan. Pasai merupaken kota dagang, mengandalkan lada sebagai komoditi andalannya, dlm catatan Ma Huan disebutkan 100 kati lada dijual dengan harga perak 1 tahil. Dalam perdagangan Kesultanan Pasai mengeluarkan koin emas sebagai alat transaksi pada masyarakatnya, mata uang ini disebut deureuham [dirham] yg dibuat 70% emas murni dengan berat 0. 60 gram, diameter 10 mm, mutu 17 karat.

Sistem Pemerintahan Kesultanan Pasai
Pusat pemerintahan Kesultanan Pasai terletaknya antara Krueng Jambo Aye [Sungai Jambu Air] dengan Krueng Pase [Sungai Pasai], Aceh Utara. Menurut ibn Batuthah yg menghabiskan waktunya sekitar dua minggu di Pasai, menyebutkan bahwa kerajaan ini tak memiliki benteng pertahanan dari batu, namun telah memagari kotanya dengan kayu, yg berjarak beberapa kilometer dari pelabuhannya. Pada kawasan inti kerajaan ini terdapat masjid, & pasar serta dilalui oleh sungai tawar yg bermuara ke laut. Ma Huan menambahkan, walau muaranya besar namun ombaknya menggelora & mudah mengakibatkan kapal terbalik. Sehingga penamaan Lhokseumawe yg bisa bermaksud teluk yg airnya berputar-putar kemungkinan berkaitan dengan ini.

Dalam struktur pemerintahan terdapat istilah menteri, syahbandar & kadi. Sementara anak-anak sultan baik lelaki maupun perempuan digelari dengan Tun, begitu juga beberapa petinggi kerajaan. Kesultanan Pasai memiliki beberapa kerajaan bawahan, & penguasanya juga bergelar sultan. Pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Malik az-Zahir, Kerajaan Perlak telah menjadi bagian dari kedaulatan Pasai, kemudian ia juga menempatkan salah seorang anaknya yaitu Sultan Mansur di Samudera.

Pada masa Sultan Ahmad Malik az-Zahir, kawasan Samudera sudah menjadi satu kesatuan dengan nama Samudera Pasai yg tetap berpusat di Pasai. Pada masa pemerintahan Sultan Zain al-Abidin Malik az-Zahir, Lide [Kerajaan Pedir] disebutkan menjadi kerajaan bawahan dari Pasai. Sementara itu Pasai juga disebutkan memiliki hubungan yg buruk dengan Nakur, puncaknya kerajaan ini menyerang Pasai & mengakibatkan Sultan Pasai terbunuh.

Sultan Zain al-Abidin Malik az-Zahir
Kesultanan Pasai kembali bangkit dibawah pimpinan Sultan Zain al-Abidin Malik az-Zahir tahun 1383, & memerintah sampai tahun 1405. Dalam kronik Cina ia juga dikenal dengan nama Tsai-nu-li-a-pi-ting-ki, & disebutkan ia tewas oleh Raja Nakur. Selanjutnya pemerintahan Kesultanan Pasai dilanjutkan oleh istrinya Sultanah Nahrasiyah. Armada Cheng Ho yg memimpin sekitar 208 kapal mengunjungi Pasai berturut turut dlm tahun 1405, 1408 & 1412. Berdasarkan laporan perjalanan Cheng Ho yg dicatat oleh para pembantunya seperti Ma Huan & Fei Xin. Secara geografis Kesultanan Pasai dideskripsikan memiliki batas wilayah dengan pegunungan tinggi disebelah selatan & timur, serta jika terus ke arah timur berbatasan dengan Kerajaan Aru, sebelah utara dengan laut, sebelah barat berbatasan dengan dua kerajaan, Nakur & Lide.

Sedangkan jika terus ke arah barat berjumpa dengan kerajaan Lambri [Lamuri] yg disebutkan waktu itu berjarak 3 hari 3 malam dari Pasai. Dalam kunjungan tersebut Cheng Ho juga menyampaikan hadiah dari Kaisar Cina, Lonceng Cakra Donya. Sekitar tahun 1434 Sultan Pasai mengirim saudaranya yg dikenal dengan Ha-li-zhi-han namun wafat di Beijing. Kaisar Xuande dari Dinasti Ming mengutus Wang Jinhong ke Pasai untuk menyampaikan berita tersebut.
http://www.sejarahnusantara.com/

Pengetahuan Umum
Pengetahuan Umum Updated at: 10/04/2015 08:53:00 AM
Pengetahuan Umum
Pengetahuan Umum Updated at: 10/04/2015 08:53:00 AM

Masa Kejayaan Kerajaan Samudera Pasai

Masa Kejayaan Kerajaan Samudera Pasai
Situs Samudera Pasai terletak di desa Kuta Krueng, Kecamatan Samudera Geudong, sekitar 20 kilometer dari Lhokseumawe ibukota Kabupaten Aceh Utara. Ibnu Battutah, musafir Islam terkenal asal Maroko, Afrika utara mencatat hal yang sangat berkesan bagi dirinya saat mengunjungi sebuah kerajaan di pesisir pantai timur Sumatera sekitar tahun 1345 Masehi. Setelah berlayar selama 25 hari dari Barhnakar (sekarang masuk wilayah Mynmar), Ibnu Battutah mendarat di tempat yang sangat subur.

Masa Kejayaan Kerajaan Samudera Pasai
Perdagangan di daerah itu sangat maju, ditandai dengan penggunaan mata uang emas. Ia semakin takjub karena ketika turun ke kota ia mendapati sebuah kota besar yang sangat indah dengan dikelilingi dinding dan menara kayu.

Kota perdagangan di pesisir itu adalah ibukota Kerajaan Samudera Pasai. Samudera Pasai (atau Pase jika mengikuti sebutan masyarakat setempat) bukan hanya tercatat sebagai kerajaan yang sangat berpengaruh dalam pengembangan Islam di Nusantara. Pada masa pemerintahan Sultan Malikul Dhahir, Samudera Pasai berkembang menjadi pusat perdagangan internasional. Pelabuhannya diramaikan oleh pedagang-pedagang dari Asia, Afrika, Cina, dan Eropa.

Kejayaan Samudera Pasai yang berada di daerah Samudera Geudong, Aceh Utara, diawali dengan penyatuan sejumlah kerajaan kecil di daerah Peurelak seperti Rimba Jreum dan Seumerlang. Sultan Malikussaleh adalah salah seorang keturunan kerajaan itu yang menaklukkan beberapa kerajaan kecil dan mendirikan Kerajaan Samudera Pasai pada tahun 1270 Masehi.

Ia menikah dengan Ganggang Sari, seorang putri dari dari kerajaan Islam Peurelak. Dari pernikahan itu, lahirlah dua putranya yang bernama Malikul Dhahir dan Malikul Mansyur. Setelah keduanya beranjak dewasa, Malikussaleh menyerahkan tahta kepada anak sulungnya Malikul Dhahir.
Ia mendirikan kerajaan baru bernama Pasai. Ketika Malikussaleh wafat, Malikul Dhahir menggabungkan kedua kerajaan itu menjadi sebuah kerajaan dengan nama Samudera Pasai.
Dalam kisah perjalannya ke Pasai, Ibnu Battutah menggambarkan Sultan Malikul Dhahir sebagai raja yang sangat saleh, pemurah, rendah hati dan mempunyai perhatian kepada fakir miskin. Meskipun ia telah menaklukkan banyak kerajaan, Malikul Dhahir tidak pernah bersikap jemawa. Kerendahan hatinya itu ditunjukkan sang raja saat menyambut rombongan Ibnu Battutah. Para tamunya dipersilahkan duduk di atas hamparan kain,
sedangkan ia langsung duduk di tanah tanpa beralas apa-apa.
Dengan cermin pribadinya yang begitu rendah hati, raja yang memerintah Samudera Pasai dalam kurun waktu 1297-1326 Masehi ini, pada batu nisannya dipahat sebuah syair dalam bahasa Arab, yang artinya, "Ini adalah makam yang mulia Malikul Dhahir, cahaya dunia sinar agama".
Tercatat, selama abad 13 sampai awal abad 16, Samudera Pasai dikenal sebagai salah satu kota di wilayah Selat Malaka dengan bandar pelabuhan yang sangat sibuk. Bersamaan dengan Pidie, Pasai menjadi pusat perdagangan internasional dengan lada sebagai salah satu komoditas ekspor utama.
Saat itu Pasai diperkirakan mengekspor lada sekitar 8.000 - 10.000 bahara setiap tahuannya, selain komoditas lain seperti sutra, Kapur Barus, dan emas yang didatangkan dari daerah pedalaman. Bukan hanya perdagangan ekspor impor yang maju. Sebagai bandar dagang yang maju, Samudera Pasai mengelarkan mata uang sebagai alat pembayaran. Salah satunya yang terbuat dari emas dikenal sebagai uang Dirham.

Hubungan dagang dengan pedagang-pedagang Pulau Jawa juga terjalin. Produksi beras dari Jawa ditukar dengan lada. Pedagang-pedagang Jawa mendapat kedudukan yang istimewa di Pelabuhan Samudera Pasai. Mereka dibebaskan dari pembayaran cukai.

Selain sebagai pusat perdagangan, Pasai juga menjadi pusat perkembangan Islam di Nusantara. Kebanyakan Mubalig Islam yang datang Ke Jawa dan daerah lain berasal dari Pasai. Eratnya pengaruh Kerajaan Samudera Pasai dengan perkembangan Islam di Jawa juga terlihat dari sejarah dan latar belakang para Wali Songo. Sunan Kalijogo memperistri anak Maulana Ishak, Sultan Pasai. Sunan Gunung Jati lahir dan besar di Pasai. Laksamana Cheng Ho tercatat juga pernah berkunjung ke Pasai demikian juga Musafir Eropa, Marcopolo.

Sejarah Pasai yang begitu panjang masih bisa ditelusuri lewat sejumlah situs makam para pendiri kerajaan dan keturunannya di makam raja-raja itu. Makam itu menjadi saksi satu-satunya karena peningalan lain seperti istana sudah tidak ada. Makam Sultan Malikussaleh dan cucunya, Ratu Nahrisyah, adalah dua kompleks situs yang tergolong masih terawat. Makam Sultan Malikussaleh berada di mulut pintu masuk ke cagar budaya Samudera Pasai. Sekitar satu kilometer dari makam itu terdapat lokasi yang dahulunya adalah istana Kerajaan Pasai. Di atas tanah seluas lebih lima hektar, aura kebesaran Kerajaan Samudera Pasai masih sangat terasa. Di lokasi itu juga terdapat makam Peut Ploh Peut (44), ulama yang meninggal karena dieksekusi Raja Bakoi, salah satu raja di Pasai. Raja menganggap ke-44 ulama itu sebagai lawan politiknya dan memerintahkan agar mereka dibunuh. Akibat tindakannya yang sewenang-wenang, rakyat menjuluki dia Raja Bakoi, yang menurut masyarakat setempat berarti pelit.
( Disadur dari tulisan Doty Damayanti )
http://goenaar.blogspot.co.id/
Pengetahuan Umum
Pengetahuan Umum Updated at: 10/04/2015 08:38:00 AM
Pengetahuan Umum
Pengetahuan Umum Updated at: 10/04/2015 08:38:00 AM

Peninggalan Kerajaan Islam Samudera Pasai

Ada banyak sekali peninggalan kerajaan Samudra Pasai yang masih bisa kita temui di sekitar kota Lhokseumawe dan Aceh Utara. Kerajaan yang didirikan oleh Marah Silu dengan gelar Sultan Malik as-Saleh, kesultanan ini dibangun pada tahun 1267. Namun sayangnya kerajaan Pasai pada tahun 1521 akhirnya runtuh setelah serangan dari Portugal.

Namun demikian masih ada beberapa peninggalan sejarah yang masih terawat hingga saat ini. Bagi yang tinggal di sekitar Sumatra Utara pasti sudah tahu apa saja peninggalan dari kerajaan ini. Tapi bagi yang belum tahu berikut ini adalah beberapa peninggalan yang bisa kita lihat langsung apabila datang ke Aceh diantaranya:

Cakra Donya
Peninggalan Kerajaan Islam Samudera Pasai
Adalah sebuah lonceng yang berbentuk stupa buatan negeri Cina pada tahun 1409 M. Ukurannya tinggi 125cm sedangkan lebarnya 75cm. Pada bagian luar Cakra Donya terdapat beberapa hiasan serta simbol-simbol kombinasi aksara Cina dan Arab. Aksara Cina bertuliskan Sing Fang Niat Tong Juut Kat Yat Tjo, sedangkan aksara Arab sudah tidak terbaca lagi.

Makam Sultan Malik Al-Shaleh
Makam ini terletak di Desa Beuringin, Kec Samudera letaknya kurang lebih 17km sebelah timur kota Lhokseumawe.

Makam Sultan Muhammad Malik Al- Zahir
Malik Al-Zahir adalah putera dari Malik Al- Saleh yang memimpin Kesultanan Samudera Pasai pada tahun 1287 sampai 1326M. letak makamnya bersebelahan dengan makam ayahnya Malik Al-Saleh.

Makam Teungku Sidi Abdullah Tajul Nillah
Makam ini merupakan peninggalan dari Dinasti Abbasiyah dan beliau merupakan cicit dari khalifah Al-Muntasir. Teungku Sidi mamangku jabatan Menteri Keuangan di samudra pasai. Makam terletak di Gampong Kuta Krueng, batu nisannya terbuat dari marmer dihiasi kaligrafi.

Makam Teungku Peuet Ploh Peuet
Di komplek terdapat makam 44 orang ulama dari Kesultanan Samudera Pasai yang dibunuh karena mengharamkan pernikahan raja dengan putri kandungnya. Makam ini terletak di Gampong Beuringen Kec Samudera. Pada nisan tersebut juga bertuliskan kaligrafi surat Ali Imran ayat 18.

Makam Ratu Al-Aqla (Nur Ilah)
Adalah puteri Sultan Muhammad Malikul Dhahir, Makam ini terletak di Gampong Meunje Tujoh Keca Matangkuli. Batu nisannya berhiasakan kaligrafi berbahasa Kawi dan Arab.

Stempel Kerajaan Samudra Pasai
Stempel ini diduga milik Sultan Muhamad Malikul Zahir oleh Tim peneliti Sejarah Kerajaan Islam. Di temukan Desa Kuta Krueng, Kec Samudera, Kabupaten Aceh Utara. Saat ditemukan stempel dalam keadaan patah pada bagian gagangnya.

Naskah Surat Sultan Zainal Abidin
Adalah surat tulisan Sultan Zainal Abidin pada tahun 923H atau 1518M, naskah atau surat ini ditujukan kepada Kapitan Moran.
http://jagosejarah.blogspot.co.id/
Pengetahuan Umum
Pengetahuan Umum Updated at: 10/04/2015 08:18:00 AM
Pengetahuan Umum
Pengetahuan Umum Updated at: 10/04/2015 08:18:00 AM

Sejarah Kerajaan Samudera Pasai

sejarah kerajaan samudera pasai
Sejarah Kerajaan Samudera Pasai
Pada tahun 1348, Sultan Malik al-Zahir wafat, kemudian takhta kerajaan dipegang oleh Zainal Abidin. Pada masa Zainal Abidin inilah, Majapahit berhasil menguasai Samudera Pasai. Dengan demikian, Samudera Pasai berada di bawah kekuasaan Majapahit.

Setelah Majapahit mengalami kehancuran, Samudera Pasai tegak kembali. Keberadaan Samudera Pasai sampai tahun 1405 masih terdengar diberitakan oleh Mohammad Cheng Ho pemimpin armada Cina, yang beragama Islam, dan sempat singgah di Samudera Pasai.

Setelah Zainal Abidin, kerajaan ini tidak terdengar lagi karena telah tergeser oleh Kerajaan Malaka. Perekonomian masyarakat Samudera Pasai tergantung dari perdagangan. Posisinya yang berada di jalur perdagangan internasional dimanfaatkan oleh kerajaan ini untuk kemajuan ekonomi rakyatnya.

Menurut beberapa sumber sejarah, diketahui bahwa banyak pedagang dari berbagai negara berlabuh di Pelabuhan Pasai. Kerajaan ini berusaha menyiapkan bandar-bandar yang dapat digunakan untuk menambah bahan perbekalan, mengurus perkapalan, mengumpulkan dan menyimpan barang dagangan, baik yang akan dikirim ke luar negeri maupun yang disebarkan di dalam negeri.

Keadaan masyarakat Samudera Pasai pada saat itu, diketahui dari catatan perjalanan Marcopolo dan Ibn Batutah. Menurut catatan perjalanan mereka, masyarakat Pasai adalah masyarakat pedagang yang beragama Islam terutama mereka yang tinggal di pesisir pantai timur Sumatra. Menurut catatan mereka ini juga diketahui bahwa kerajaan Samudera Pasai menjadi pusat penyebaran agama Islam ke kawasan sekitarnya di Sumatra dan Malaka. Orang-orang Pasai yang telah memeluk Islam menjadi golongan yang berperan dalam menyebarkan Islam, selain golongan pedagang dan ulama setempat.

Kehidupan sosial masyarakat Samudera Pasai, diatur menurut aturan-aturan dan hukum-hukum Islam yang mempunyai kesamaan dengan daerah Arab, sehingga daerah kerajaan Samudera Pasai mendapat julukan daerah Serambi Mekkah.

Berikut ini urutan raja-raja yang memerintah di Samudera Pasai:

1. Sultan Malik as Saleh (Malikul Saleh)
2. Sultan Malikul Zahir, meninggal tahun 1326
3. Sultan Muhammad, wafat tahun 1354
4. Sultan Ahmad Malikul Zahir atau Al Malik Jamaluddin, meninggal tahun 1383
5. Sultan Zainal Abidin, meninggal tahun 1405
6. Sultanah Bahiah (puteri Zainal Abidin), sultan ini meninggal pada tahun 1428.

Sosial Ekonomi Masyarakat Kerajaan Samudera Pasai
Menurunnya peranan Kerajaan Sriwijaya di Selat Malaka bersamaan dengan berdirinya Kerajaan Samudera Pasai. Di bawah kekuasaan Samudera Pasai, jalur perdagangan di Selat Malaka berkembang pesat. Banyak pedagang-pedagang dari Arab, Persia dan Gujarat yang berlabuh di Pidie, Perlak, dan Pasai.

Pada masa raja Hayam Wuruk berkuasa, Samudera Pasai berada di bawah kendali Majapahit. Walau demikian Samudera Pasai diberi keleluasan untuk tetap menguasai perdagangan di Selat Malaka. Belakangan diketahui bahwa sebagian wilayah dari Kerajaan Majapahit sudah memeluk agama Islam.

Karena letak Kerajaan Pasai pada aliran lembah sungai membuat tanah pertanian subur, padi yang ditanami penduduk Kerajaan Islam Pasai pada abad ke-14 dapat dipanen dua kali setahun, berikutnya kerajaan ini bertambah makmur dengan dimasukkannya bibit tanaman lada dari Malabar. Selain hasil pertanian yang melimpah ruah di dataran rendah, di dataran tinggi (daerah Pedalaman juga menghasilkan berbagai hasil hutan yang di angkut ke daerah pantai melalui sungai. Hubungan perdagangan penduduk pesisir dengan penduduk pedalaman adalah dengan sistem barter.

Karena letaknya yang strategis, di Selat Malaka, di tengah jalur perdagangan India, Gujarat, Arab, dan Cina, Pasai dengan cepat berkembang menjadi besar. Sebagai kerajaan maritim, Pasai menggantungkan perekonomiannya dari pelayaran dan perdagangan. Letaknya yang strategis di Selat Malaka membuat kerajaan ini menjadi penghubung antara pusat-pusat dagang di Nusantara dengan Asia Barat, India, dan Cina. Salah satu sumber penghasilan kerajaan ini adalah pajak yang dikenakan pada kapal dagang yang melewati wilayah perairannya.

Berdasarkan catatan Ma Huan yang singgah di Pasai pada 1404, meskipun kejayaan Kerajaan Samudera Pasai mulai menurun seiring munculnya Kerajaan Aceh dan Malaka, namun negeri Pasai ini masih cukup makmur. Ma Huan adalah seorang musafir yang mengikuti pelayaran Laksamana Cheng Ho, pelaut Cina yang muslim, menuju Asia Tenggara (termasuk ke Jawa).

Kehidupan Agama Masyarakat Kerajaan Samudera Pasai
Kerajaan Samudera Pasai merupakan dua kerajaan kembar, yakni Samudera dan Pasai, kedua-duanya merupakan kerajaan yang berdekatan. Ketika Nazimuddin al-Kamil (Laksamana asal Mesir) menetap di Pasai, kedua kerajaan tersebut akhirnya dipersatukan dan Pemerintahan menjalankan sistem nilai-nilai Islam.

Samudera PasaiKerajaan Samudera Pasai adalah kerajaan pesisir sehingga pengaruhnya hanya berada di bagian Timur Sumatera. Samudera Pasai berjasa menyebarkan agama Islam ke seluruh pelosok di Sumatera, bahkan menjadi pusat penyebaran agama. Selain banyaknya orang Arab menetap dan banyak ditemui persamaan dengan kebudayaan Arab, atas jasa-jasanya menyebarkan agama Islam ke seluruh pelosok Nusantara wilayah itu dinamakan Serambi Mekah.

Berdasarkan catatan Batutah, Islam telah ada di Samudera Pasai sejak seabad yang lalu, jadi sekitar abad ke-12 M. Raja dan rakyat Samudera Pasai mengikuti Mazhab Syafei. Ketika singgah di pelabuhan Pasai, Batutah dijemput oleh laksamana muda dari Pasai bernama Bohruz. Lalu, laksmana tersebut memberitakan kedatangan Batutah kepada raja. Ia diundang ke Istana dan bertemu dengan Sultan Muhammad, cucu Malik as-Saleh. Setelah setahun di Pasai, Batutah segera melanjutkan pelayarannya ke Cina, dan kembali ke Samudera Pasai lagi pada 1347.

Bukti lain dari keberadaan Pasai adalah ditemukannya mata uang dirham sebagai alat tukar dagang. Pada mata uang ini, tertulis nama para sultan yang memerintah Kerajaan. Nama-nama sultan (memerintah dari abad ke-14 hingga 15) yang tercetak pada mata uang tersebut di antaranya Sultan Alauddin, Mansur Malik Zahir, Abu Zaid Malik Zahir, Muhammad Malik Zahir, Ahmad Malik Zahir, dan Abdullah Malik Zahir.

Dengan munculnya pusat politik dan perdagangan baru di Malaka pada abad ke-15 merupakan faktor yang menyebabkan Kerajaan Samudera Pasai mengalami kemunduran. Hancur dan hilangnya peranan Pase dalam jaringan antar bangsa, yaitu ketika suatu pusat Kekuasan baru muncul di ujung barat pulau Sumatera, yakni Kerajaan Aceh Darussalam pada abad ke-16. Pasai ditaklukan dan dimasukkan ke dalam wilayah Kekuasaan Kerajaan Aceh Darussalam oleh Sultan Ali Mughayat Syah dan Lonceng Cakra Donya hadiah dari Raja Cina untuk Kerajaan Islam Samudera Pasai dipindahkan ke Aceh Darussalam (sekarang Banda Aceh).

Namun demikian, dari perjalanan sejarah Pasai antara akhir abad ke 13 sampai awal abad ke 16 memang menunjukkan Kerajaan Samudera Pasai muncul dan berkembang. Runtuhnya kekuatan Kerajaan Pasai sangat berkaitan dengan perkembangan yang terjadi di luar Pasai itu sendiri. Walaupun Kerajan Islam Samudera Pasai berhasil ditaklukan oleh Sultan Asli Mughayat Syah, namun peninggalan dari Kerajaan ini masih banyak dijumpai sampai saat ini.

Pada 1913 dan 1915, J.J. De Vink bangsa Belanda telah mengadakan inventarisasi di bekas peninggalan Kerajaan Islam Samudera Pasai. Dan pada 1937, beberapa makam di Samudera Pasai dipugar oleh Pemerintah Belanda. Kemudian pada 1972, 1973, dan 1976. Peninggalan Kerajaan Samudera Pasai di Kecamatan Samudera Geudong Kabupaten Aceh Utara telah diinventarisasi oleh Direktur Jendral Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan milik pemerintah Republik Indonesia.

Pada umumnya, tulisan pada makam tersebut belum diteliti seluruhnya dan hal ini perlu penelitian lebih lanjut oleh generasi pada masa sekarang. Berbagai peninggalan sejarah berupa situs makam para raja yang hingga saat ini penduduk di sekitar makam Sultan Malikussaleh sering menemukan mata uang emas (dirham), keramik, dan gelang mata delima yang umumnya ditemukan di sekitar kawasan tersebut.

Demikianlah Materi Sejarah Kerajaan Samudera Pasai, semoga bermanfaat.
http://www.materisma.com/
Pengetahuan Umum
Pengetahuan Umum Updated at: 10/04/2015 07:55:00 AM
Pengetahuan Umum
Pengetahuan Umum Updated at: 10/04/2015 07:55:00 AM

Daftar Nama Kerajaan Islam Di Indonesia

Agama Islam adalah salah satu agama besar di Dunia . Agama ini dibawa dan disebarkan Oleh Nabi Muhamad SAW. Agama Islam pertama kali berkembang di Kota Mekah , Arab Saudi . Namun setelah Beberapa Periode Agama Islam Menyebar Keseluruh Dunia. Salah satu negara yang banyak mendapat pengaruh Islam adalah Indonesia.

Kegiatan Pelayaran dan Perdaggangan Merupakan Awal Masuknya Agama Islam ke Nusantara , Pedaggang – Pedagang dari Arab, Persia dan Gujarat Masuk Indonesia untuk mengadakan hubungan daggang dengan masyarakat Setempat. Mereka Kadang Menetap dulu selama beberapa Bulan di Indonesia sebelum Kembali ke Daerahnya. Selama Tinggal di Indonesia, Para Pedaggang Tersebut Mengajarkan agama islam kepada Penduduk, Agama islam cepat menyebar di masyarakat. banyak orang Indonesia yang Kemudian memeluk Agama Islam.
Sejarah dan Perkembangan Kerajaan Islam di Indonesia
Adapun Kerajaan – Kerajaan Islam Indonesia sebagi Berikkut:

1. Kerajaan Samudra Pasai
Daftar Nama Kerajaan Islam Di Indonesia
Kerajaan Samudra Pasai Berdiri pada Abad Ke- 13. Pendiri kerajaan itu adalah SULTAN MALIK AL SALEH. Samudra Pasai terletak di Aceh Utara, dekat kawasan selat Malaka. Wilayah Samudra Pasai Merupakan Jalur Perhubungan Laut yang ramai antara Arab , India , dan Cina. Oleh karena itu samudra pasai dikenal sebagai Pusat Perdaggangan dikawasan itu . samudra Pasai Mengalami kemajuan Yang Pesat , rakyat Hidup makmur dan Sejahtera. Pada tahun 1297 Setelah Sultan Malik Al Saleh Wafat . Ia digantikan Oleh Putranya yang Bernama Sultan Muhammad dan Memerintah Hinggah 1326.

2. Kerajaan Aceh
Daftar Nama Kerajaan Islam Di Indonesia
Berdirinya kerajaan aceh berawal ketika protugis berhasil menguasai malaka pada tahun 1511. Para pedaggang islam yang sebelumnya berdaggang di malaka enggan melakukan perdaggangan dengan Protugis . pedaggang islam tersebut kemudian mengalihkan perdaggangan ke pelabuhan Aceh menyebapkan kerajaan Aceh Berkembang Pesat.
Kerajaan Aceh didirikan Oleh Ali Mughayat Syah ( 1514-1528) Pusat pemerintahnya berada di kotaraja atau Banda Aceh. Kerajaan Aceh Mencapai Kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda ( 1607-1636) . sultan iskandar muda Meluaskan daerah kekuasaanya hinggah meliputi lebih dari separuh Pulau sumatera.

3. Kerajaan Demak
Daftar Nama Kerajaan Islam Di Indonesia
Kerajaan Demak Muncul sekitar Tahun 1500 . kerajaan Ini didirikan Oleh Raden Patah . ia Memerintah Hingah Tahun 1518. sebelum menjadi kerajaan besar, demak merupakan daerah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Demak adalah sebuah Kerajaan Islam Pertama di Pulau Jawa.
Pada tahun 1513, armada Demak di Bawah Pimpinan Pati Unus Menyerang Protugis di Malaka. Pati Unus Adlaah Putra Raden Patah. Namun, Penyerangan ini mengalami Keggalan . atas keberanian tersebut , Pati Unus Mendapat sebutan Pangeran Sabrang Lor.
Pada Tahun 1518 , Raden Patah Wafat . Kedudukanya di Gantikan oleh yang bernama Sultan Treggana.

4. Kerajaan Pajang
Daftar Nama Kerajaan Islam Di Indonesia
Pendiri Kerajaan Pajang adalah Pangeran Hadiwijaya atau Jaka Tingkir Pada Tahun 1568 sampai dengan 1582. ia menjadi sultan setelah memindahkan Pusat pemerintahan kerjaaan Demak ke Pajang. Sebelum menjadi raja Sultan Hadiwijaya banyak di Bantu oleh Kiai Ageng Pamanahan, Kiai Panjawi, dan Sutawijaya. Berkat jasanya yang besar kepada Kerajaan Pajang , Kiai Ageng Pamanahandi beri Daerah Kekuasaan di Mataram.
Pada Tahun 1582, Sultan Hadi Wijaya wafat dan setelah itu di Pajang terjadi pertikaian untuk memperrebutkan Kekuasaan. akan tetapi pertikaian itu dapat di atasi Oleh Sutawijaya dan kemudian Memindahkan Pusat Pemerintahan dari Pajang ke Mataram.

5. Kerajaan Mataram Islam
Daftar Nama Kerajaan Islam Di Indonesia
Sutawijaya memimipin Kerajaan Mataram dari tahun 1586 hinggah 1601. ia bergelar PenembahanSenapati Ing alaga sayidin padatagma , artinya Panglima Perang Pemimpin Agama. Kemudian ia Lebih di Kenal sebagai Penembahan Senapati. Pada masa pemerintahanya banyak terjadi Pemberontakan.

6. Kerajaan Cirebon
Daftar Nama Kerajaan Islam Di Indonesia
Kerajaan Cirebon Terletak di Jawa Barat . Kerajaan ini di dirikan Oleh syarif Hidaytulah atau Sunan Gunugn Jati. Syarif Hidayatulah adalah seorang Ulama yang gigih menyebarkan Agama Islam. Berkat Kegigihanya, Agama islam tersebar di Sebagian Besar daerah Jawa barat . Kerjaan Cirebon terus berkembang selama kepemimpinanya. kerajaan ini berhasil menjalin Hubungan baik dengan Kerajaan Mataram Islam. Karena didirikan Oleh Seorang wali Sanga , kerajaan Mataram Islam sangat Menghormati Cirebon.

7. Kerajaan Banten
Daftar Nama Kerajaan Islam Di Indonesia
Seperti halnya Kerajaan Cirebon Kerajaan Banten Juga didirikan Oleh Sarif Hidayatulah . pada Mulanya Kerajaan Banten Berada di Bawah Kerajaan Demak. Sejak Pusat Kerajaan Dimak Pindah Ke Pajang, Banten Melepaskan diri dari Kerajaan Demak, kerajaan Banten Berpusat di Serang, Banten.
Raja Pertama Banten adalah Sultan Hasanudin ( 1552-1570 ), Putra tertua Syarif Hidayatulah . di bawah Pemerintahanya, Banten Mengalami Kemajuan di Bidang Perdaggangan.

8. Kerajaan Gowa-Tallo
Daftar Nama Kerajaan Islam Di Indonesia
Kerajaan ini sering disebut Kerajaan Makasar. Pada Mulanya Gowa dan Tallo adalah dua Kerajaan yang merdeka. Akan tetapi, keduanya sepakat untuk bersatu menjadi kerajaan Makassar. Setelah bersatu, Pusat Pemerintahan Berada di Sombaopu, Makasar, Sulawesi Selatan. Selanjutnya Kedua Raja Tersebut Bersama – sama Memimpin Kerajaan Makasar. Raja Gowa, Daeng Manrabia di angkat menjadi Raja Makasar bergelar Sultan Alauddin. Sementara Raja Tallo, Karaeng Mantoaya di angkat menjadi Patih Kerajaan Makasar Bergelar Sultan Abdulah.

9. Kerajaan Ternate dan Kerajaan Tidore
Daftar Nama Kerajaan Islam Di Indonesia
Kerajaan Ternate Terletak di Pulau Ternate, Maluku Utara. Kerajaan ternate Berdiri Pada Abad Ke- 3. Pusat Kerajaanya Berada di Sumatra. Kerajan Ini berkembang Pesat karena Hasil Buminya yang berupa rempah – rempah.

Raja Ternate yang Pertama Kali Memeluk Islam adalah Sultan Zaenal Abidin. Ternate Mencapai Puncak kejayaan Pada masa pemerintahan Sultan Babullah. Wilayah Kekuasaan Ternate Cukup Luas Hinggah Mencapai Pulau – pulau di Filipina Sekarang. Ternate adalam Pemimpin Persekutuan Lima Atau Uli Lima. Persekutuan ini beranggotakan Bacan, Obi, Seram, Ternate dan Ambon
Pengetahuan Umum
Pengetahuan Umum Updated at: 10/04/2015 07:41:00 AM
Pengetahuan Umum
Pengetahuan Umum Updated at: 10/04/2015 07:41:00 AM

Jumat, 02 Oktober 2015

Wanita Muslim Tercantik Didunia

Kecantikan Wanita Muslim berikut tidak kalah dengan aktris Bollywood ataupun Hollywood. Selain cantik dan kaya, status sebagai keluarga kerajaan membuat mereka tampak sempurna.

Wanita Muslim Tercantik Didunia


1. Hajah Hafizah Sururul Bolkiah

Wanita Muslim Tercantik Didunia
Si cantik Hajah Hafizah adalah putri dari Sultan Brunei Darussalam, Hassanal Bolkiah. Semenjak kecil Hafizah sudah hidup bergelimang harta karena ayahnya pernah menjadi manusia terkaya di dunia pada tahun 1997 versi Forbes.

Bolkiah disebutkan memiliki mobil mewah Rolls-Royce yang dilapisi emas 24 karat selain mobilnya yang mencapai 7.000 buah. Dia juga memiliki tempat tinggal terbesar di dunia, dengan 1.700 kamar. Untuk pernikahan Hafizah dengan YAM Pengeran Anak Haji Mohammad Ruzaini, Bolkiah rela merogoh uang mencapai USD 20 juta (Rp 228,2 miliar).

2. Sheikha Hanadi bint Nasser Al Thani

Wanita Muslim Tercantik Didunia
Seorang banker, investor dan pengusaha real estate adalah pekerjaan dari Sheikha Hanadi yang kini menjadi salah satu pengusaha wanita tersukses dalam perekonomian Qatar. Dia juga menjadi penasihat khusus bank Standard Chartered. Seakan kurang, Hanadi adalah CEO dari proyek pengembangan Al Waab City Real Estate.

Hanadi kini juga terdaftar sebagai wakil CEO dari grup Nasser bin Khaled Al Thani & Sons. Sekalipun tak pernah diungkapkan oleh Hanadi, pundi-pundi kekayaan keluarga Thani mencapai lebih dari USD 15 miliar (Rp 171,1 triliun).

3. Ameerah Al Taweel

Wanita Muslim Tercantik Didunia
Puteri Arab Saudi sekaligus seorang dermawan cantik bernama Ameera Al Taweel ini terlahir pada 6 November 1983 (30). Dia adalah istri dari Pangeran Al Waleed bin Talal, anggota keluarga kerajaan Arab Saudi.

Al Waleed yang kini berusia 58 tahun adalah seorang pebisnis dan ada di posisi ke-26 dalam daftar pria terkaya di dunia versi majalah Forbes dengan daftar kekayaan bersih lebih dari USD 20-25 miliar (Rp 228,2 – 285,2 triliun). Dia kini sebagai salah satu manusia paling berpengaruh di Arab. Sang Pangeran adalah pendiri sekaligus pemilik Perusahaan Kingdom Holding.

4. Fathima Kulsum Zohar Godabari

Wanita Muslim Tercantik Didunia
Setelah sebelumnya dipimpin oleh seorang Pangeran, kini Fathima Kulsum resmi menjadi Ratu kerajaan Arab Saudi. Menjadi salah satu anggota keluarga kerajaan terkaya di dunia, Fathima adalah istri dari Sheikh Avdi Al Muhammad.

Paras cantik mempesona Fathima sebelumnya tak pernah ada yang tahu dan keindahan ragawinya selalu misterius serta tersembunyi. Namun kini wajah-wajah cantik Fathima sempat terungkap di internet. Sebagai negara OPEC terkaya, Arab Saudi menguasai 39% cadangan minyak OPEC. Bisa kamu bayangkan betapa bergelimangnya kehidupan keuangan Fathima?

5. Rania Al Abdullah

Wanita Muslim Tercantik Didunia
Ratu Rania Al Abdullah yang sangat cantik dan anggun ini adalah istri dari Pangeran Abdullah II dan terlahir pada 31 Agustus 1970 (43). Suaminya yang berusia 51 rahun, Abdullah II ibn Al-Hussein adalah raja dari Kerajaan Hashmite Yordania dan naik tahta pada 1999.

Meskipun Abdullah II tak pernah gamblang menyebutkan nilai kekayaannya, sepertinya publik bisa mengukurnya di mana dia pernah menghabiskan uang pribadinya lebih dari satu miliar untuk membuat taman hiburan Star Trek. Bahkan majalah Harpers dan Queen pernah mencatat Rania sebagai permaisuri tercantik pada 2011.
http://www.yudhe.com/
Pengetahuan Umum
Pengetahuan Umum Updated at: 10/02/2015 03:03:00 PM
Pengetahuan Umum
Pengetahuan Umum Updated at: 10/02/2015 03:03:00 PM

Kamis, 01 Oktober 2015

10 Masjid Peninggalan Sejarah Islam Di Nusantara

10 Masjid Peninggalan Sejarah Islam Di Nusantara

Indonesia yang memiliki ribuan pulau dan bermacam-macam suku bangsa banyak memiliki sejarah kebudayaan. Salah satunya adalah sejarah kebudayaan islam dan peninggalannya. Dahulu banyak terdapat kerajaan-kerajaan islam yang ada di Indonesia dan meninggalkan bangungan-bangungan bersejarah antara lainnya adalah bangungan masjid.

Seperti dilansir Triptrus.com berikut 10 Masjid Peninggalan Sejarah Islam Di Nusantara.

1. Masjid Raya Baiturrahman Aceh

10 Masjid Peninggalan Sejarah Islam Di Nusantara
Masjid bersejarah ini dibangung oleh Sultan Iskandar Muda pada tahun 1612. Namun ada juga pendapat yang mengatakan bahwa masjid ini dibangun di tahun 1292 oleh Sultain Alaidin Mahmudsyah. Masji ini pernah di hancurkan oleh Belanda di tahun 1873, namun akhirnya Belanda memutuskan untuk membangun kembali masjid ini di tahun 1877. Itu dilakukan sebagai permintaan maaf atas dirusaknya bangunan masjid yang lama. Pembangunan kembali masjid baru mulai dilaksanakan pada tahun 1879. Masjid ini selesai dibangun pada tahun 1883 dan tetap berdiri hingga sekarang. Dan yang uniknya masjid ini tetap utuh pada saat terjadinya bencana Tsunami di tahun 2004 dan menjadi tempat pengungsian pada waktu itu.

2. Masjid Raya Medan

10 Masjid Peninggalan Sejarah Islam Di Nusantara
Masjid yang dibangun pada tahun 1906 ini juga dikenal dengan nama Masjid Al-Mashun. Pembangunan masjid ini selesai pada tahun 1909 oleh Sultan Ma’mum Al Rasyid Perkasa Alam. Masjid ini begitu megah karena disengaja oleh Sultan. Beliau menjadikan masjid ini harus lebih megah dari istananya yaitu Istana Maimun.

Bahan bangunan dan rancangan masjid ini diimpor dari luar negeri, seperti marmer untuk dekorasi diimpor dari Italia dan Jerman, dan kaca patri dari Cina, dan lampu gantung dari Prancis. Arsitek Belanda yang merancang masjid ini, JA Tingdeman merancang bangunan ini dengan corak bangunan Maroko, Eropa, Melayu, dan Timur Tengah.

3. Masjid Raya Ganting Padang

10 Masjid Peninggalan Sejarah Islam Di Nusantara
Menurut sejarah pembangunan masjid ini pada tahun 1700. Dan bangunannya telah beberapa kali dipindahkan sampai pada akhirnya berada di daerah Ganting, kota Padang, Sumatra Barat mulai tahun 1805.

Model atap masjid ini berbentuk persegi delapan dan dibuat oleh para pekerja etnis Cina yang dahulu membantu mengembangkan bangunan ini, setelah Belanda menambahkan bangunan masjid ini sebagai kompensasi digunakannya tanah wakaf untuk jalur transportasi pabrik semen Indarung ke Pelabuhan Teluk Bayur. Sama dengan masjid baiturahman yang ada di Aceh, masjid ini juga tetap kokoh saat dilanda gempa dan Tsunami di tahun 1833. Masji ini juga pernah menjadi tempat pengungsian Presiden Pertama Indonesia, Bung Karno sebelum diasingkan ke Bengkulu di tahun 1942.

4. Masjid Istiqlal Jakarta

10 Masjid Peninggalan Sejarah Islam Di Nusantara
Masjid istiqlal merupakan masjid terbesar di Asia Tenggara. Pembangunannya diprakarsai oleh Bung Karno pada tahun 1951 dengan rancangan arsiteki Frederich Silaban. Pembangungan baru mulai pada tahun 1961 dan merampungkan pembangunannya pada tahun 1978. Nama masjid ini diambil dari bahasa Arab yang berarti “Kemerdekaan.”

Saat ini masjid negara Indonesia ini menjadi pusat perayaan berbagai acara agama umat Muslim seperti Iedul Fitri, Iedul Adha, Maulid Nabi Muhammad, dan Isra’ Mi’raj. Kapasitas penampungan masjid ini dapat menampung hingga 200 ribu jamaah dari satu lantai dasar dan lima lantai di atasnya. Masjid Istiqlal dibangun di atas bekas reruntuhan benteng Prins Frederik benteng milik penjajah belanda yang didirikan di tahun 1873.

Masjid ini dibangun dengan karya tangan arsitek Cina bernama Tjek Ban Tjut pada masa pemerintahan sultan pertama dari Kesultanan Banten, Sultan Maulana Hasanuddin, putra dari Sunan Gunung Jati di tahun 1560. Atap bangunan masjid ini menyerupai pagoda.
Untuk menara masjid yang tingginya 24 meter itu dibangun oleh arsitek Belanda Hendrik Lucasz Cardeel. Menara tersebut berada di sisi timur dan menjadi tempat wisata karena keunikan bentuk bangunannya. Cardeel juga membangun bangunan khusus di sisi selatan masjid yang dulu digunakan sebagai tempat bermusyawarah dan berdiskusi. Selain itu di sisi utara dan selatan masjid ini terdapat makam kuno para sultan Banten dan keluarganya

6. Masjid Agung Cirebon

10 Masjid Peninggalan Sejarah Islam Di Nusantara
Masjid ini juga dikenal dengan nama Masjid Agung Kasepuhan dan Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Pembangunannya diprakarsai oleh Sunan Gunung Jati dan dengan karya arsitek Sunan Gunung Kalijaga. Pembangunan masjid ini selesai pada tahun 1480 yang pada masa itu adalah masa penyebaran agama Islam oleh para Wali Songo.

Masjid Agung beada di kompleks Keraton Kasepuhan Cirebon, Jawa Barat. Uniknya masjid ini mempunyai sembilan pintu untuk masuk ke ruangan utama. Sembilan pintu tersebut melambangkan kesembilan Wali Songo. Selain itu masjid Agung Cirebon juga dikenal dengan nama Masjid Sunan Gunung Jati.

7. Masjid Menara Kudus

10 Masjid Peninggalan Sejarah Islam Di Nusantara
Sesuai dengan namanya masjid ini dibangun oleh salah satu Wali Songo yaitu Sunan Kudus tahun 1549 di kota Kudus. Batu pertama pembangunannya batu yang berasal dari Baitul Maqdis, dari Palestina. Bentuk menara yang mirip dengan bentuk candi ini menunjukkan percampuran pengaruh kebudayaan agama Hindu dan Budha. Ini merupakan cara Sunan Kudus menyampaikan ajaran agama Islam kepada penganut agama Hindu dan Budha pada masa itu agar lebih mudah untuk diterima. Uniknya lagi menara masjid ini dibangun tanpa menggunakan semen sebagai perekatnya dan juga dihiasi oleh 32 piring biru yang berhiaskan lukisan.

8. Masjid Agung Demak

10 Masjid Peninggalan Sejarah Islam Di Nusantara
Pendirian masjid ini dilakukan oleh Raden Patah yang merupakan raja pertama dari Kesultanan Demak, beserta para Wali Songo di tahun 1466 dan pembangunannya selesai tahun 1479. Bangunan induk masjid ini ditopang oleh empat tiang utama yang bernama saka guru. Uniknya, salah satu dari tiang utama tersebut terbuat dari serpihan kayu, dan dinamakan saka latal.
Di bagian samping masjid ini terdapat Museum Masjid Agung Demak. Museum tersebut menampilkan berbagai koleksi unik masjid yang bersejarah, seperti beduk dan kentongan yang dibuat oleh Wali Songo, kitab tafsir Al-Qur’an Jus 15-30 tulisan tangan Sunan Bonang, sepotong kayu dari saka latal yang diambil oleh Sunan Kalijaga, dan lain sebagainya.

9. Masjid Sunan Ampel

10 Masjid Peninggalan Sejarah Islam Di Nusantara
Masjid bersejarah ini juga dibangun oleh salah satu Wali Songo yaitu Sunan Ampel di tahun 1421. Beliau bersama dua sahabatnya, Mbah Sholeh dan Mbah Sonhaji yang mendirikan Masjid Ampel. Luas bangunan kurang lebih 2 km persegi. Memiliki keunikan berupa 16 tiang kayu setinggi 17 meter dengan diameter 60 cm. Tiang-tiang dari kayu jati itu tidak terbuat dari sambungan kayu dan sampai sekarang tidak diketahui bagaimana cara mendirikan tiang tersebut.

Sampai saat ini kawasan Wisata Religi Sunan Ampel, lokasi Masjid Sunan Ampel, tiap harinya dipenuhi oleh wisatawan yang berziarah ke makam Sunan Ampel yang berada di sekitar halaman masjid. Selain itu di kompleks pemakaman masjid itu juga terdapat makam salah satu pahlawan nasional, KH Mas Mansyur.

10. Masjid Kotagede Yogyakarta

10 Masjid Peninggalan Sejarah Islam Di Nusantara
Masjid Kotagede adalah masjid bersejarah dan tertua di Yogyakarta. Didirikan oleh Sultan Agung, Raja kerajaan Mataram, pada tahun 1640. Pembangunan masjid ini ini dikerjakan dengan bergotong-royong melibatkan pekerja beragama Hindu dan Budha, sehingga arsitektur bangunan masjid ini terlihat pengaruh bangunan Hindu dan Budha. Awalnya, Masjid Kotagede hanya seluas 100 meter persegi, namun Paku Buwono X memperluas bangunan masjid ini hinga mencapai 1.000 meter persegi. Uniknya di bulan Ramadhan di Masjid ini sholat tarawih dilakukan pada saat jam 24.00.
Itulah 10 peninggalan masjid bersejarah yang ada di Nusantara. Semoga bermanfaat./
Baca Juga: 10 Candi Peninggalan Kebudayaan Hindu Di Indonesia
Pengetahuan Umum
Pengetahuan Umum Updated at: 10/01/2015 12:00:00 PM
Pengetahuan Umum
Pengetahuan Umum Updated at: 10/01/2015 12:00:00 PM